Afeksi Publik dan Aktivisme Digital pada Isu Penghapusan Pilkada Langsung di Akun Instagram @tempodotco

Lestari, Linda (2026) Afeksi Publik dan Aktivisme Digital pada Isu Penghapusan Pilkada Langsung di Akun Instagram @tempodotco. Tesis (S2) - thesis, Universitas Bakrie.

[thumbnail of Cover] Text (Cover)
00-COVER.pdf - Accepted Version

Download (401kB)
[thumbnail of BAB I - BAB III] Text (BAB I - BAB III)
01-BAB I - BAB III.pdf - Accepted Version
Restricted to Registered users only

Download (813kB) | Request a copy
[thumbnail of BAB IV] Text (BAB IV)
02-BAB IV.pdf - Accepted Version
Restricted to Registered users only

Download (1MB) | Request a copy
[thumbnail of BAB V] Text (BAB V)
03-BAB V.pdf - Accepted Version
Restricted to Registered users only

Download (20kB) | Request a copy
[thumbnail of DAFTAR PUSTAKA] Text (DAFTAR PUSTAKA)
04-DAFTAR PUSTAKA.pdf - Accepted Version

Download (156kB)
[thumbnail of LAMPIRAN] Text (LAMPIRAN)
05-LAMPIRAN.pdf - Accepted Version
Restricted to Registered users only

Download (958kB) | Request a copy

Abstract

Isu penghapusan Pilkada langsung pada akun Instagram @tempodotco memunculkan perdebatan tentang mekanisme pemilihan kepala daerah serta kegelisahan terhadap hak memilih, kedaulatan rakyat, legitimasi demokrasi, dan dominasi elite politik. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi bentuk afeksi publik serta menganalisis proses pembentukan, penyebaran, dan perubahannya menjadi aktivisme digital. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode netnografi dan teori affective publics Papacharissi. Data berupa unggahan, 1.993 komentar, emoji, meme, GIF, balasan, tanda suka, dan penyebutan akun pada @tempodotco. Hasil penelitian menunjukkan bahwa afeksi publik hadir sebagai kemarahan terhadap elite, ketakutan akan kemunduran demokrasi, kecurigaan kepada buzzer, kekecewaan terhadap relasi negara dan warga, kecemasan terhadap sentralisasi kekuasaan, serta harapan dan solidaritas. Afeksi terbentuk ketika Pilkada melalui DPRD dimaknai sebagai ancaman terhadap hak memilih. Interaksi dan pengulangan narasi membuat respons personal beresonansi hingga berkembang menjadi emosi kolektif. Emosi tersebut mendorong aktivisme digital melalui kritik terhadap elite, seruan boikot pajak, kontra-narasi terhadap buzzer, penandaan akun politik, ajakan mempertahankan Pilkada langsung, serta perlawanan simbolik melalui meme dan GIF. Penelitian menyimpulkan bahwa afeksi publik mampu menghubungkan pengguna, memperluas kritik, dan membangun tekanan opini. Aktivisme yang terbentuk masih didominasi tindakan komunikatif dan simbolik. Keterlibatan tersebut bersifat reaktif, cair, dan sementara karena bergantung pada momentum isu serta belum berkembang menjadi mobilisasi luring yang terorganisasi dan berkelanjutan.

Item Type: Thesis (Tesis (S2) - )
Uncontrolled Keywords: afeksi publik, aktivisme digital, Pilkada langsung, Instagram, demokrasi digital
Subjects: Communication Science > Digital Communication
Communication Science > Communication in politics (Komunikasi politik)
Thesis > Thesis (S2)
Depositing User: Linda Lestari
Date Deposited: 18 Aug 2026 02:43
Last Modified: 18 Aug 2026 02:43
URI: https://repository.bakrie.ac.id/id/eprint/13974

Actions (login required)

View Item View Item